Setelah mendapat balasan dari temannya langkah Alembana tertuju pada gedung student center tempat pusat kegiatan mahasiswa—yang biasanya digunakan untuk segala jenis UKM Universitas Adikara tepatnya di belakang gedung rektorat. Masalahnya, gedung tersebut lumayan jauh dari tempatnya saat ini. Mengharuskannya berjalan kaki di tengah terik matahari siang yang sialannya sangat menusuk kulit.
Demi danus gapapa leyyyy nanti pasti dibales kok, di surga tapi. Batinnya kesal.
“Argh—panas banget, sihh… Ini kota apa anjirrr panas bangettt. Danusan tai lah gua capek anjir. Fiks, ini kepanitiaan terakhir gua.” Gerutunya sepanjang jalan dengan tangan yang sibuk membawa kedua box berisi bomboloni dan risol mayo pesanan temannya.
…
Alembana menghela napas lelah setelah mencapai tempat tujuannya dengan malas memandang papan nama ‘UKM Teater’ yang sudah jenuh ia lihat acap kali bertandang kemari, begitu presisi tergantung di tengah pintu masuknya dengan ornamen lucu yang mengiasi. Hiruk piruk manusia di dalamnya terdengar jelas bahkan sebelum tangannya menggapai kenop pintu. Dan ketika jemarinya membuka satu kata yang dapat menggambarkan tempat ini ‘kacau’ berbagai jenis properti kebutuhan tergeletak dimana-mana; sampah kertas maupun makanan tak karuan; beberapa mahasiswa yang tertidur dan lainnya tengah sibuk mengunting entah apa.
Sementara dipojok sisi sebelah kiri duduk seorang gadis yang Alembana cari sosoknya tengah tertawa terpingkal melihat laptop yang sedang dipandanginya. Langkahnya ia bawa mendekat kemudian meletakkan kedua box berwarna coklat tuk dibawa kehadapan temannya itu—Clarissa. “Bayar?!” Ujar Alembana malas.
“Wih… masih anget, mantep banget.”
“Iyalah, lu pikir nyampe kesini ngga kebakar gua?”
“Jangan marah-marah, dedek. Sini ngadem dulu.” Goda Clarissa dengan menjawil dagu Alembana sebelum tangannya membuka satu bungkus risol mayo yang Alembana bawakan.